KONSULTAN PROPERTI ZAMAN NOW
29 February 2020

Bagi masyarakat umum, seorang konsultan properti barangkali sama seperti calo atau makelar. Namun bagi mereka yang paham, tentunya profesi itu lebih dari sekedar menjual dan memasarkan properti. Menurut Edi Muljawan, penulis buku The King Of Property, seorang konsultan properti itu dituntut untuk memiliki kemampuan dan ilmu tentang desain, arsitektur bahkan hukum. "Seorang broker atau konsultan properti harus diingat sebagai orang yang solving the problems", kata Edy saat berbicara di hadapan ratusan Galaxians dalam acara Kick Off 2020. Selain itu menjadi seorang konsultan properti harus fokus pada profil pemilik, bisa memberi solusi dan gambaran detail tentang produk yang dijual. Fokus pada nilai jual yang sepadan, dengan warga wajar, berani dan mampu menggali pertanyaan pada pemilik sehingga terbangun rasa percaya. "Ingat seorang konsultan properti itu bukan salesman. Kepercayaan pemilik dan pembeli harus bisa dibangun, karena kepercayaan itu akan melahirkan peluang-peluang berikutnya", tandas Edy.

Sebagai seorang konsultan properti yang telah berkecimpung puluhan tahun di bidang ini, Edy tak lupa menyampaikan agar seorang konsultan tidak berhenti belajar. Hal ini senada dengan yang disampaikan Founder Galaxy, Fenny Gunawan bahwa sebagai konsultan properti harus berani mengeluarkan dana lebih untuk menghadiri seminar atau workshop tidak hanya dalam negeri namun juga luar negeri. Hal ini untuk menambah wawasan soal sales marketing, dan leadership yang diperlukan untuk membangun tim. "Saya bugetkan untuk hadiri seminar, bahkan sampai ke luar negeri, berjam-jam mendengarkan para pembicara yang ahli dibidangnya. Tidak mengapa keluar dana banyak, yang penting dapat ilmunya dan setelah itu bisa dibagi ke tim sendiri," tambah Fenny yang turut memotivasi ratusan Galaxians se Indonesia yang hadir di Spazio Tower siang itu.  

Sejumlah tips dari Edy Muljawan juga disampaikan bagi para konsultan properti yang memiliki listing secondary. Yang pertama adalah milikilah listing yang lengkap informasinya tentang aset tersebut dan tempatkan daftar listing sebagai aset, seolah-olah aset itu milik sendiri. Kenali dengan baik barang dagangan, apalagi didukung dengan banyak listing yang sehat (jangan lupa lakukan survey), dan buatlah listing yang memadai ibarat supermarket property. (AT/2020)

Latest News